Initiative and Programmes

Initiative and Programmes

Sebagai sebuah konsorsium, kami menggelar serangkaian rapat, diinisiasi sejak Februari 2014, untuk mempersiapkan diri. Mulai dari menyatukan pemahaman, menyusun rencana, hingga berbagi sumber daya. Sebagai informasi, kegiatan ini, hingga pencapaiannya sejauh ini, memang bersumber dan digerakkan oleh swadaya antar anggota konsorsium.

Akhirnya, persiapan ini bermuara pada kesepakatan-kesepakatan sebagai berikut: i) bahwa kondisi faktual di lapangan perlu dipahami secara mendalam dan menyeluruh melalui sebuah proses riset aksi, ii) bahwa lokus dari riset, dan keseluruhan dari kegiatan ini, difokuskan pada desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, sebagai hulu dari Sungai Ciliwung, iii) bahwa seluruh tahapan kegiatan harus dilaksanakan separtisipatif mungkin, sehingga kegiatan ini juga menjadi milik masyarakat lokal, sekaligus memberikan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi mereka, dan iv) bahwa gong dari kegiatan ini harus berujung pada pertemuan para pihak, membangun konsensus, dan aksi bersama. Diawali dengan riset aksi, ditutup dengan aksi bersama. Aksi bersama yang diharapkan untuk terus bergulir, dengan salah satu wujud gulirannya adalah tersajinya buku ini ke hadapan anda.

Dan berikut ini perjalanan prosesnya.

Riset Aksi (Action Research)

Riset aksi secara sederhana dapat diartikan sebagai riset yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk pelaksanakan aksi. Aksinya dapat lebih logis dan terstruktur, dan risetnya dapat lebih operasional.

Riset aksi berguna untuk memberikan penguatan pemahaman bagi para pihak melalui fakta, analisis dan rekomendasi. Melalui riset aksi ini, diharapkan dapat mendorong terbangunnya kesadaran kritis masyarakat dan pihak lainnya untuk memperbaiki kualitas lingkungan kawasan Puncak.

Riset aksi ini meliputi kajian teknokratis mengenai kajian status kawasan, inkonsistensi tata ruang, serta perubahan tata guna dan tutupan lahan. Selain itu, riset aksi juga dilakukan melalui kajian partisipatif mengenai aspek sosial ekonomi. Isu-isu sosial ekonomi lokal pasca pembongkaran vila, budaya setempat, termasuk potensi dan isu-isu strategis di beberapa kampung di desa Tugu Utara dan Tugu Selatan menjadi bagian dari kajian partisipatif ini.

Kajian partisipatif dilakukan dengan metode Rapid Rural Appraisal (RRA). Secara umum, RRA adalah metode untuk mendapatkan pemahaman akan kondisi suatu desa/wilayah melalui pengumpulan data dan informasi secara langsung di desa/wilayah tersebut. Hal yang membedakan antara RRA dan pengumpulan data lainnya adalah bahwa i) RRA juga memiliki tujuan selain pengumpulan data yaitu membangun kepercayaan (trust building) masyarakat kepada tim, ii) memetakan anggota masyarakat yang memiliki potensi sebagai kader untuk terlibat penuh dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan berikutnya. Memang, pada pengumpulan data umumnya, terkumpulnya data adalah tujuan akhir, sedangkan pada RRA, terkumpulnya data merupakan awal bagi rangkaian kegiatan selanjutnya bersama dengan masyarakat.

Pada awalnya proses RRA yang kami lakukan adalah menelusuri batas-batas desa, melakukan transek dan pemetaan potensi dan masalah yang diteruskan dengan observasi dan wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat dan pelaku isu.

Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas data yang dikumpulkan pada proses RRA, maka digunakan teknik triangulasi, ialah menguji kesahihan data yang didapatkan kepada sekurang-kurangnya tiga informan kunci yang berbeda.

Pemetaan Partisipatif

Seluruh data-data hasil dari proses RRA kemudian harus dipetakan sehingga dapat diketahui sebaran lokasinya. Proses ini kemudian dilakukan pada Pemetaan Partisipatif di tingkat Kampung dengan mengambil 12 Kampung contoh yang berlokasi di Daerah Aliran Sungai. Pemetaan Partisipatif diawali dengan kegiatan live in yakni tinggal di rumah penduduk dan mengobservasi secara dekat. Hal ini dilakukan dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat dan mengobservasi secara dekat. Proses selanjutnya dalah mendorong munculnya Focus Group Discussion (FGD) di tingkat Kampung dengan melibatkan tokoh masyarakat. Dalam FGD ini pemetaan partisipatif dilakukan dengan memverifikasi hasil identifikasi potensi dan permasalahan di tingkat kampong dan memetakan nya secara partisipatif.

Perencanaan Partisipatif

Perencanaan partisipatif yang akan dilakukan dan difokuskan pada  tingkat desa dengan output dokumen  perencanan yang dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat lokal setempat.

Puncak dari proses perencanaan partisipatif adalah penyelenggaraan Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA adalah metode untuk membangun konsensus (consensus building).Teknik yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD).Konsensus ini dibangun dengan “membenturkan” antara data dan informasi hasil RRA dengan data dan informasi yang dikuasai oleh masyarakat. Hal ini tidak berarti bahwa hasil RRA pasti berbeda dengan pengetahuan masyarakat, bahkan seharusnya RRA yang baik akan menghasilkan data dan informasi yang relatif sama dengan yang dikuasai masyarakat. Jika sama, maka tentunya yang terjadi adalah verifikasi. Pada intinya, konsensus dibangun untuk menentukan pilihan terbaik dari seperangkat alternatif yang teridentifikasi, dan pilihan terbaik itu dapat dihasilkan melalui “pembenturan” ini. Dalam PRA, masyarakat adalah counterpart dalam membangun consensus (Rahman, 2013).

Seminar dan Sarasehan

Pada akhirnya acara sarasehan bertajuk Penyelamatan Kawasan Puncak dalam rangka memperingati Hari Bumi dapat dilaksanakan pada tanggal 22 April 2014. Sarasehan ini juga dalam rangka memperingati Konferensi Asia Afrika yang pada masanya Bangsa Indonesia begitu bermartabat hingga mampu mengumpulkan negara-negara di Asia dan Afrika. Kegiatan ini  mengundang berbagai stakeholder terkait isu pengelolaan DAS Hulu Ciliwung dalam Kelompok Diskusi terfokus (Fokus Group Discussion), kemudian dilakukan paparan hasil-hasil kajian dan dirumuskan dalam konsensus bersama sebagai rekomendasi dalam pengelolaan kawasan puncak ke depan.

Kampanye dan Aksi Bersama

Kampanye dilakukan sebagai alat advokasi masyarakat, berfungsi untuk menguatkan eksistensi dari upaya masyarakat yang sedang dilakukan, sinergitas tujuan penyelamatan puncak oleh stake holder yang bermain dan dukungan publik terhadap kesyadayaan masyarakat.

Aksi bersama dilakukan dengan dua jenis kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan dan mengurangi dampak resiko bencana, 1) melakukan kegaitan penghijauan dengan menanam pohon yang bernilai ganda (ekonomi sekaligus konservasi) dan sesuai dengan iklim ketinggian diatas 1000 m dpl, antara lain: pohon Alpokat, Jabon, Aren, Jambu Mete, dan Nangka. Sistim penanaman dilakukan dengan tehnik titip tanam kepada petani melalui lembaga yang bertanggungjawab melakukan monitoring dengan mekanisme bagi hasil. 2) operasi bersih sampah dilokasi pembuangan sampah ilegal di dua lokasi strategis; di sekitar Jalan Pra Asia Afrika Tugu Selatan dan  Jalan Puncak Bogor  (Kawasan Gunung Mas) desa Tugu Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*