Tasyakuran KTH Cibulao Hijau : Mempertahankan Hutan, Memperbaiki Perekonomian Kawasan Puncak

Anggota KTH Cibulao. Foto : Arifin | Savepuncak.org

Rasa syukur, mungkin itu yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang kami lakukan di Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak (Savepuncak) bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau dan jaringan pendukung di Kampung Cibulao RT 02/06 Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Kegiatan pada Minggu, 15 januari 2016 lalu itu merupakan ungkapan rasa syukur atas pencapaian yang tak disangka-sangka, dimana kopi yang ditanam petani di Cibulao mendapat predikat terbaik, juara I untuk kategori robusta dalam ajang Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) Ke-8 di Gayo, Aceh, 21-23 Oktober 2016.

Itulah kenapa kami tujukan acara ini sebagai Tasyakuran, bukan pesta atau hura-hura karena juara. Acara tasyakuran dengan melibatkan petani KTH Cibulao Hijau, masyarakat sekitar, jaringan anggota konsorsium savepuncak beserta mitra-mitranya, LMDH, ketua dan anggota eco village di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, serta mengundang Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Asisten Deputi Telematika dan Utilitas (Kemenko Perekonomian), Kepala Bappeda Kabupaten Bogor, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Administratur Perum Perhutani, Manajer  PT. Sumber Sari Bumi Pakuan dan Kepala Desa Tugu Utara.

“Kegiatan rekan-rekan KTH Cibulao Hijau ini cukup menarik, melindungi hutan dengan menanam kopi. Setelah memenangkan kontes kopi nasional, nama kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, dan Kabupaten Bogor ikut terangkat. Banyak penikmat kopi diluar Bogor yang ingin langsung berkunjung ke kampung Cibulao. Apabila para pihak jeli memanfaatkan potensi ini, tentunya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung Cibulao,” buka Ernan Rustiadi dalam sambutan Tasyakuran.

Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak yang telah berkegiatan sejak 2014 kemudian mengajak Rumah Kopi Ranin untuk membantu mengembangkan hasil kopi petani Cibulao agar memiliki kualitas dan citarasa yang baik.

Jumpono, salah satu dinamisator KTH Cibulao Hijau tak menampik apa yang disampaikan Pak Ernan. Semua bermula pada 2002 ketika dirinya bersama Kelompok Pecinta Alam Cibulao Hijau melakukan aksi penanaman pohon-pohon asli untuk menyelamatkan kawasan hutan puncak. Saat itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) CIBA membentu mendampingi untuk konservasi satwa langka, Elang Jawa. Pilihan menanam kopi baru terjadi pada pada tahun 2004, merintis penanaman pohon kopi di bawah tegakkan tanaman hutan yang masih tersisa supaya masyarakat ikut menjaga hutan sekitar pemukiman mereka. Aksi inilah yang ‘ditangkap’ Perhutani sebagai upaya baik dan mengarahkan masyarakat untuk membentuk kelompok tani hutan. Pada tahun 2009 dibentuk dan disepakati perjanjian kerjasama dalam pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM).

“Pada awalnya kopi yang ditanam hanya 50 batang yang berasal dari jawa. Ternyata kopi yang ditanam di dekat tegakan hutan menjadi tetap terjaga karena masyarakat tidak berani lagi menebang pohon atau mengambil kayu karena menganggap jika ada tanaman kopi berarti itu miliki masyarakat, Saat ini sudah ada bantuan pemerintah provinsi berupa bibit sebanyak 25.000 bibit,” jelasnya.

Terkait bagaimana Kopi Cibulao bisa berjaya di tanah Sumatera, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Siti Nurianty mengisahkan. Setelah kegiatan Festival Kopi se-Kabupaten Bogor dirinya mengenal Jumpono, momentum yang tepat bersamaan upaya pihaknya yang tengah mencari hasil panen kopi untuk diikutkan KKSI di Aceh. Dari 2000 hektar kopi di 6 kecamatan di Bogor, hanya robusta dari Cibulao yang telah memasuki masa panen. Selanjutnya dari 200 peserta robusta Cibulao masuk dalam 15 peserta terbaik dan akhirnya terpilih sebagai juara 1 oleh 12 juri dengan 6 juri kualifikasi internasional. “Diraihnya juara untuk kopi robusta ini merupakan berkah bagi semua. PR untuk duduk bersama dan saling bekerjasama dengan perusahaan dan perhutani. Rencananya akan membuat standarisasi geografis kopi mulai dari menaman, merawat sampai panen. Pada akhirnya ingin meningkatkan taraf kehidupan petani dan tetap menjaga lingkungan untuk lestari,” terangnya.

Acara tasyakuran ini kemudian menjadi kesempatan penting  KTH Cibulao untuk memperkenalkan jati diri kelompoknya sekaligus mengukuhkan kelompok yang pasca festival kopi melakukan serangkaian perencanaan bersama yang difasilitasi oleh konsorsium savepuncak. Pengukuhan dilakukan oleh Kepala Desa yang secara simbolis diawali  dengan penyerahan piala juara KKSI dari KTH Cibulao Hijau kepada Kepala Desa Tugu Utara sebagai bentuk sumbangsih warga Cibulao dalam membawa nama Desa Tugu Utara di mata Nasional. Pertemuan dengan para mitra ini juga merupakan kesempatan bagi KTH Cibulao Hijau untuk memaparkan program kerja dan capaian mereka kedepan. Tentunya dengan tujuan utama mempertahankan hutan yang ada dan memperbaiki perekonomian masyarakat tani di sekitar hutan kawasan Puncak, Bogor.

Beberapa program yang direncanakan untuk dilaksanakan KTH Cibulao Hijau adalah pengembangan jalur sepeda, pengembangan budidaya dan produksi tanaman kopi, ekowisata, wisata kampung, wisata kopi, homestay, PAUD, penanaman dan pemeliharaan tanaman hutan, koperasi, budidaya jamur, budidaya lebah madu dan tanaman Sayuran dalam polybag. Pada Kesempatan kali ini, KTH Cibulao Hijau juga me-launching logo barunya sekaligus disain kemasan kopi milik KTH Cibulao Hijau yang diinisiasi bersama dengan konsorsium savepuncak. Desain logo dan produk ini sumbangsih dari Maxymum yang disusun bersama sama dengan KTH Cibulao Hijau dan konsorsium savepuncak.

KTH bersama dengan Konsorsium savepuncak telah melakukan uji coba dan perencanaan wisata kopi dan homestay. Rencana ini mendapat tanggapan positif dari PT.SSBP sebagai pemegang lahan HGU kampung Cibulao yang membuka kesempatan kerjasama dalam pengembangan ekowisata terutama wisata kampung dan homestay dengan membuat MOU antara lembaga-lembaga yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Hal ini sejalan dengan program Desa Wisata yang dipaparkan oleh Kepala Desa Tugu Utara yang telah mencanangkan Kampung Cibulao sebagai kampung sasaran program pengembangan Homestay. Kepala Desa juga menitipkan pesan agar Konsorsium savepuncak dapat membantu dalam melakukan pendampingan dan persiapan warga dalam pengelolaan ekowisata dan homestay.

Pada kegiatan tasyakuran dan pengukuhan kelompok ini, Konsorsium membantu menerjemahkan potensi yang ada di kampung cibulao ini dalam membuat dokumen perencanaan pengembangan kedepannya seperti apa. Selanjutnya turut mendampingi bersama P4W IPB dan mahasiswa pascasarjana IPB program studi ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan.

Menanggapi paparan KT Cibulao, berbagai pihak yang hadir menyatakan dukungannya. Perwakilan Kemenko Perekonomian berniat menjadikan Cibulao sebagai best practices dalam kegiatan koordinasi antar kementerian yang dikoordinasi oleh kemenko perekonomian. Perhutani mempertimbangkan pendirian coffee shop di lahan perhutani semisal berupa rumah pohon. Hasil coffee shop diharapkan dapat memberikan kontribusi ke semua pihak. Selain itu Perhutani juga telah melarang investor kopi perorangan dan memprioritaskan pengelolaan untuk masyarakat Tugu Utara.

Dukungan senada juga disampaikan PT. SSBP selaku pengelola kawasan perkebunan teh, Kades Tugu Utara dan DInas Pertanian dan Kehutanan terkait ide rencana pembuatan homestay dan coffee corner.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*