Mengenalkan Kopi Cibulao ke Pentas Nasional

Petani Cibulao saat memanen kopi buah merah. Robusta Cibulao mendapat predikat terbaik (juara 1) pada KKSI 8 di Aceh.

Petani Cibulao saat memanen kopi buah merah. Robusta Cibulao mendapat predikat terbaik (juara 1) pada KKSI 8 di Aceh. Foto : Uthi|Savepuncak.org

Tiga tahun lalu barangkali tak ada yang mengenal sebuah kampung bernama Cibulao, ternyata sejak dua tahun lalu mulai menghasilkan kopi. Apalagi profil kampung Cibulao sebagai satu dari ratusan kampung, yang ada di kawasan Puncak, Bogor, tepatnya di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Warga kampung ini umumnya buruh pemetik dan pengupas teh untuk PT SSBP atau yang lebih dikenal dengan Perkebunan Teh Ciliwung. Komoditi kopi baru dikenal seiring hadirnya Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau yang mendapatkan kerjasama dengan Perhutani mengelola lahan seluas 5 Ha.

Meski sesungguhnya Bogor dikenal sebagai salah satu penghasil kopi dunia sejak 1723. Kopi cukup laku keras dipasaran dunia kala itu. Terbukti ketika Daendels menghadapi keadaan kas negara yang kosong sedangkan hubungan dengan luar negeri Belanda terputus karena peperangan Inggris dengan Perancis. Pemerintah Hindia Belanda masih tertolong oleh hasil kopi Jawa Barat yang laku keras di Meksiko. Sejarah juga mencatat bagaimana Politik dan sistem pemerintahan Belanda di Jawa sebelah Barat selalu diasosiasikan dengan kepentingan kopi. Hingga akhirnya hama karat daun menghancurkan riwayat kopi Bogor pada tahun 1876.

Adalah Yono dan Jumpono, duo saudara yang menghidupkan kembali riwayat komoditi kopi Bogor mulai 2009, dengan motivasi berbeda. Jika Belanda erat dengan politik dan motif ekonomi, bersama KTH Cibulao Hijau keduanya bermimpi, kopi sebagai alat melakukan upaya konservasi kawasan hutan di kampungnya. Perkenalan dengan Konsorsium Penyelamatan Puncak tahun 2014 lalu menandai langkah awal mereka serius menggarap kopi sebagai komoditi. Melirik citarasa sebagai pilihan begitu Rumah Kopi Ranin ikut terlibat membina dan menampung produksi mereka, hingga perjumpaan KTH dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Agustus 2016 lalu.

Perlu proses hingga 2-3 tahun agar kopi Cibulao mendapat tempat layaknya komoditi yang diperhitungkan. Setelah sebelumnya robusta Cibulao telah tersaji dan menjadi favorit pengunjung di Rumah Kopi Ranin sejak 2015 lalu. Satu tahun kemudian citarasanya diakui secara nasional, tak tanggung-tanggung, peringkat terbaik yang berhasil diraihnya pada Gayo Highland Sumatera Coffe Festival.

Perjumpaan Kopi Cibulao dengan Highland Sumatera Coffe Festival berawal dari didaftarkannya robusta Cibulao ke Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) 2016 oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor. Satu langkah penting setelah Dr. Priyono, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) memproses hasil panen petani Cibulao dengan metode Ciragi, yaitu starter fermentasi untuk menghasilkan kopi dengan citarasa tinggi. Hasilnya kemudian disampaikan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor untuk diikutsertakan dalam KKSI 2016 yang finalnya berlangsung di Aceh.

Sejak ditemukan tahun 2014, Ciragi telah mengantarkan menjadi juara dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia yg disenggarakan oleh AEKI. Bahkan tahun 2015 juara 1 kategori kopi Arabika dan Robusta dimenangkan oleh kopi Manggarai Timur yg keduanya menggunakan Ciragi saat pengolahan greenbean.

“Tahun 2016, juara 1 kopi Robusta kembali dimenangkan oleh kopi yang difermentasi menggunakan Ciragi, untuk kopi Arabika menunduki juara 2. Alhamdulillah walaupun saya belum kenal Mas Jumpono selamat atas prestasi juara 1 kopi Robusta,” terang Dr. Priyono yang kini menjabat Direktur PBBI.

Dengan hasil ini beliau menyarankan sebaiknya pada tahun panen berikutnya proses produksi greenbean menggunakan Ciragi secara konsisten dan diikuti dengan pemasaran yang baik, agar kenaikan citarasa kopi yang dihasilkan, diikuti dengan kenaikan harga yang menguntungkan bagi petani dan trader. Ciragi terbukti mampu meningkatkan cita rasa kopi Arabika maupun Robusta secara signifikan pada uji coba skala pilot di beberapa sentra penghasil kopi spesialti. Bahkan, kopi Arabika hasil fermentasi dengan Ciragi berhasil memenangi enam kompetisi kopi tingkat nasional. Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) telah menghasilkan produk starter fermentasi Ciragi (pendaftaran merek No D002014052980 dengan formula yang telah didaftarkan patennya dengan nomor pendaftaran paten P-00201407291).

Robusta Cibulao kemudian dikirim sampelnya oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) Jember, Jawa Timur. Disini kopi yang ditanam Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Cibulao dengan maksud sebagai pagar alam tanaman hutan, terpilih dengan predikat Tenderable oleh tim Taman Delta Indonesia (TDI) dan masuk sebagai peserta final kontes di Aceh. Jumpono, ketua dari kelompok tani hutan saat itu hadir langsung bersama Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Siti Nurianty.

Menanggapi kemenangan ini Siti Nurianty menyampaikan bahwa ini adalah buah kerja bersama untuk meningkatkan nilai tambah produk petani yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani.

“Mereka adalah petani yang memanfaatkan lahan Perhutani, mereka merupakan kelompok pelestari lingkungan hutan yang sudah memproduksi kopi dan memasok Rumah Kopi Ranin. Dinas Pertanian turut mendukung dan membantu mempersiapkan mereka mengikuti lomba ini,” terang Siti Nurianty.

Bogor sendiri tercatat pada 2015 memiliki lahan perkebunan kopi cukup luas, hampir 3.000 hektar. Terdiri dari 2.812 hektar kopi robusta dan 143 hektar kopi arabika. Dari total lahan-lahan tersebut, bisa dihasilkan lebih dari 2.400 ton biji kopi. Terdiri dari 2.328 ton kopi robusta dan 121,86 ton kopi arabika.

Ernan Rustiandi, koordinator Konsorsium Penyelamatan Puncak dalam sebuah kesempatan membeberkan bahwa kopi yang dihasilkan di Cibulao bukan sekedar komoditas, dibalik itu ada upaya dari masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Kedepan, cita cita konsorsium savepuncak dan KTH bisa menjual kopi dengan muatan kampanye.  Tidak hanya membeli kopi tapi turut berkontribusi dalam melestarikan hutan.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*