Bergerak dari hulu

Bergerak dari hulu

Kawasan Puncak masih menjadi pilihan destinasi wisata yang sangat populer bagi warga Jakarta di akhir pekan dan hari libur. Kawasan ini juga populer setiap kali Jakarta tengah sibuk menghadapi banjir rutin yang datang pada puncak musim hujan di akhir dan awal tahun. Ada keniscayaan bahwa sebagian sumber utama banjir di Jakarta adalah karena datangnya “banjir kiriman” dari Bogor, utamanya dari kawasan Puncak. Oleh karenanya, kawasan ini sering dipersalahkan, sehingga sebagian mata para pengamat, media dan pejabat menunjuk dan menyalahkan hadirnya bangunan vila-vila liar serta berbagai pelanggaran tata ruang kawasan ini yang tidak kunjung terselesaikan. Polemik Kawasan Puncak ini seakan jadi ritual tahunan berita yang populer. Namun faktanya, permasalahan lingkungan di Kawasan puncak ini tidak kunjung padam tanpa solusi berarti dan memunculkan riuh berita musiman yang berulang tiap tahunnya.

Di penghujung tahun 2013 Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dengan didukung Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembongkaran vila-vila liar di tanah-tanah negara. Pembongkaran yang memang “sudah seharusnya” dilakukan ini menjadi berita hangat karena menjadi hal yang “tidak biasa” dan untuk pertama kalinya dilakukan dengan jumlah yang cukup masif. “Tidak biasa” karena sudah ada keniscayaan bahwa pemerintah tidak akan pernah memiliki kemampuan dan keberanian menaklukan para pemilik-pemilik vila yang banyak dimiliki para “elit” yang berpengaruh di negeri ini.

Pembongkaran vila di Kawasan Puncak tampaknya akan menjadi “persoalan yang menyisakan persoalan baru” jika tidak disertai aksi yang menyeluruh. Pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa Kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila, jasa ojek bagi pengunjung vila, termasuk jual beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan.

Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak ke arah hulu atau akar masalah. Solusi ke hulu diantaranya adalah menertibkan praktek jual beli tanah-tanah negara. Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai status tanah-tanah negara di kawasan ini. Adanya kejelasan batas-batas tanah berstatus kawasan hutan negara, tanah perkebunan serta peruntukan rinci menurut ketentuan tata ruang akan menjadi pijakan para pihak di dalam mengelola kawasan ini. Solusi ke hulu yang lain adalah menumbuhkan alternatif lapangan pekerjaan yang produktif dan bermartabat bagi masyarakat lokal. Masyarakat lokal perlu didukung agar memiliki akses dan kapasitas dalam mengelola begitu besarnya potensi sektor wisata dan pertanian di kawasan ini.

Masyarakat yang berdaya dan bermartabat adalah masyarakat yang memiliki ketahanan ekonomi dan memiliki jati diri yang berakar pada budaya lokal. Saat ini Kawasan Puncak juga telah menjadi tempat wisata dan pusat persinggahan yang populer bagi warga pendatang dari negara-negara kawasan “Timur Tengah” yang hendak bermigrasi ke negara lain. Hadirnya banyak pendatang ke kawasan Puncak dan telah menumbuhkan perekonomian sektor wisata di kawasan ini perlu disertai daya dukung sosial yang kuat agar kawasan Puncak tidak kehilangan identitas diri dan karakter budayanya. Untuk itu agenda kebudayaan dan kegiatan keagamaan juga perlu mendapatkan perhatian yang tinggi.

Pada akhirnya, masyarakat lokal Kawasan Puncak yang memiliki ketahanan ekonomi dan budaya akan menjadi jangkar kelestarian lingkungan yang lebih permanen. Namun di tengah kesulitan baru akibat hilangnya sebagian sumber mata pencarian warganya pasca pembongkaran vila dan di tengah derasnya gempuran budaya “asing”, warga lokal Kawasan Puncak selalu memiliki mimpi lingkungan Puncak yang bersih dan lestari. Tumbuhnya kesadaran lokal akan kelestarian lingkungan ini kami rasakan ketika kami selama beberapa bulan terakhir menyertai masyarakat berembug mendiskusikan masa depan kawasan ini. Namun tumbuhnya kesadaran lingkungan ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan para pihak yang memiliki kewenangan di luar lokalitas mereka. Aksi masyarakat beberapa kampung di kawasan ini yang tergerak secara rutin memulung sampah-sampah domestik, wisatawan, hotel-restoran di hulu-hulu sungai Ciliwung membutuhkan dukungan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Pemerintah Daerah, pengelola kawasan perkebunan serta pengusaha-pengusaha perhotelan dan restoran di kawasan ini dapat mendukung terbangunnya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi pada skala wilayah. Budayawan dan pemuka agama dapat membantu menumbuhkan kesadaran warga dan umat beragama mewujudkan sungai Ciliwung bersih. Aksi di hulu yang tidak kalah penting adalah kontribusi akademisi dan peneliti. Mereka bukan saja pencetus paradigma-paradigma untuk menjawab tantangan baru namun juga berkontribusi menjelaskan dan menjernihkan persoalan kelabu menjadi terang benderang ke khalayak, bukan sebaliknya.

Menyadari itu semua, kami segelintir komunitas dan penggiat yang juga merasa sebagai bagian dari persoalan ini berikhtiar memulai “gerakan dari hulu” dengan membentuk “Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak”. Konsorsium kami diinisasi oleh P4W IPB, Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat, Ciliwung Institute, Komunitas Ciliwung Puncak dan Komunitas Peduli Ciliwung. Kami tidak tahu berapa persisnya kontribusi Kawasan Puncak terhadap persoalan lingkungan Sungai Ciliwung, Kota Jakarta dan sekitarnya. Tapi kami yakin bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan bergerak dari hulu dimana Kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung adalah salah satu hulu persoalan. Di kawasan hulu sungai ini kami juga mencoba melihat dan bergerak di hulu persoalan. Kami akan berusaha bergerak secara proporsional dalam tiga bentuk kegiatan, yakni riset, kampanye dan aksi nyata. Meski bergerak dari hulu, kami berkeyakinan bahwa pada akhirnya semua harus berujung pada aksi nyata.

Kami mengundang partisipasi dari seluruh pihak, kami terbuka untuk segala bentuk dukungan, meskipun hanya berupa ide. Kami percaya bahwa pada dasarnya kita semua adalah warga yang peduli dan kami tahu sudah banyak yang diperbuat banyak pihak dalam penyelamatan Kawasan Puncak. Kami hanya membuka satu pilihan lagi untuk mewujudkan kepedulian Anda dengan bergabung pada Gerakan Aksi Bersama ini.

Dr. Ernan Rustiadi
Dekan Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Pegiat Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*